Skip to main content

follow us

Mengatasi Rasa Takut atau Phobia Pada Ketinggian Tanpa Menggunakan Jasa Psikiater

Phobia ketinggian itu apa sih? Secara umum phobia ketinggian atau biasa disebut dengan akrophobia adalah rasa takut yang berlebihan terhadap ketinggian.

Rasa takut pada penderita phobia ini dapat memberikan efek rasa cemas, stres ketakutan, keringat dingin, mual dan beberapa gejala lainnya.

Umumnya bagi orang yang menderita phobia ini, biasanya menghindari aktivitas yang erat kaitanya dengan tempat-tempat yang tinggi sebagaimana penderita akan menunjukkan reaksi yang tidak wajar ketika berada di tempat yang tinggi.

Misalnya saja ketika penderita phobia berada di lift, melintasi jembatan, berada di stadium, melihat keluar jendela gedung tinggi, bagi penderita phobia akan ketinggian bisa merasakan kecemasan, rasa panik, takut yang tidak bisa dikontrol.

Tapi mungkin akan jadi aneh kali ya kalo ada orang berpostur tinggi, terus menderita phobia ketinggian karena badanya tinggi. Tolong-tolong gua takut ketinggian, pendekin badan gua. :D

Reaksi lain yang juga dapat muncul pada penderita phobia:
  • Hanya dengan membayangkan situasi yang tidak di inginkan misalnya berada pada ketinggian saja, penderita bisa merasakan ketakutan berlebihan dan cemas. Bahkan sebagian penderita phobia ketinggian mengalami serangan panik tiba-tiba.
  • Sensasi fisik yang muncul vertigo, pusing, detak jantung meningkat, mual, berkeringat dingin, sesak napas, bahkan bisa juga pingsan
  • Seorang penderita phobia ketiggian sebenarnya sadar akan rasa takut yang dialaminya tersebut tidaklah wajar, namun mereka tidak dapat mengontrol rasa takut yang dialami tersebut.
Saya sendiri pun pernah mengalami hal yang sama. Kadang mendapat tugas bekerja di luar gedung untuk instalasi jaringan, menemui medan yang harus ditempuh untuk instalasi jaringan yang mengharuskan saya naik di lokasi yang tinggi. 

Setiap orang pasti punya rasa takut dan itu wajar. Begitupun saya, akan merasa takut jika ada pemasangan kabel pada tiang atau diluar gedung yang baru pertama kali saya temui, maka akan ada kekhawatiran jika terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan. 

Cara Saya Mengatasi Ketakutan akan Ketinggian

Saya menyadari rasa cemas, takut, jelas akan sangat mempengaruhi aktivitas yang sedang saya hadapi. Saya yakin bagi Anda yang menderita phobia ketinggian akan mengalami rasa takut yang parah, bahkan kegiatan ringan seperti memasang paku di dinding, mencuci jendela, atau membersihkan lampu saja sudah cukup menimbulkan rasa takut.


Ini hal-hal yang saya lakukan sebelum beraktifitas instalasi untuk menghindari rasa takut:

Berdoa Sebelum Memulai Aktivitas

Tak ada yang jauh lebih baik selain berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meminta kekuatan dan keselamatan dalam bekerja.

Lihat Kondisi Lokasi

Saya harus kenal betul apa yang akan saya panjat, bagaimana kondisi tempat tersebut. Apakah tiang, tembok atau apapun itu, termasuk rapuh/kokoh? Dibagian mana saya harus berpijak, meletakkan tangan dan kaki. Kehati-hatian lebih baik dari pada ceroboh sok berani.

Saya Sudah Safety

Saya tidak pernah mau ambil resiko, kecuali dalam kondisi terpaksa. Ketika memanjat ketinggian harus ada tali pengaman, sepatu, helm, sarung tangan (kadang saya gunakan jika di sekitar ada kabel listrik tegangan tinggi). Selalu perhatikan alat-alat yang digunakan untuk bekerja. Rasa aman inilah yang membuat saya merasa nyaman serta percaya diri ketika bekerja pada ketinggian.

Tidak Terburu-Buru

Meskipun dalam kondisi darurat, dan diminta untuk buru-buru lebih baik hiraukan. Fokus, rasakan aliran nafas perlahan, bekerja pelan-pelan asal selamat. Dari pada terburu-buru tapi berisiko kecelakaan.

Itulah beberapa antisipasi yang saya lakukan untuk menghindari dari resiko jatuh dari ketinggian. Langkah selanjutnya hanyalah pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena takdir Tuhanlah Yang Maha Tahu.


Sebagaimana phobia pada ketinggian dapat mengganggu setiap aktivitas penderita phobia. Maka sangat disarankan ketika penderita phobia tidak dapat mengupayakan untuk mengatasi rasa takutnya seperti yang saya lakukan. Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut kepada psikiater atau dokter untuk mendapatkan penanganan serta pengobatan lebih lanjut.

Yang Kamu Suka:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar

This website uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More Info